Mentawai Perkuat City Branding Lewat Budaya Sikerei dan Surfing Kelas Dunia

08 May 2026 | 813 Dibaca

HUMAS PROKOPIM, JAKARTA — Pemerintah Kabupaten Kabupaten Kepulauan Mentawai terus memperkuat pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya dan wisata selancar kelas dunia. Dalam peluncuran city branding Kabupaten Kepulauan Mentawai di Jakarta, Kamis (7/5/2026), Bupati Rinto Wardana menegaskan bahwa pariwisata Mentawai tidak hanya berfokus pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada pengalaman dan keaslian budaya yang dirasakan para pengunjung.

Menurut Rinto, wisatawan yang datang ke Mentawai mencari pengalaman yang berbeda dan autentik, terutama budaya lokal yang masih terjaga hingga saat ini.

“Yang diingat wisatawan itu adalah experience-nya, keasliannya. Karena itu kita mesti beyond tourism,” ujar Rinto dalam kegiatan launching city branding tersebut.

Dalam kesempatan itu, Rinto juga menyoroti pentingnya keberadaan Sikerei sebagai identitas budaya masyarakat Mentawai. Sikerei dikenal sebagai tokoh adat sekaligus tabib tradisional yang menggunakan ramuan alami dari hutan untuk mengobati masyarakat.

Menurutnya, Sikerei bukan sekadar simbol budaya, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat Mentawai yang diwariskan secara turun-temurun.

“Sikerei menjadi tokoh dan orang bijak di Mentawai. Sikerei adalah ikon Mentawai yang tidak dapat dilepaskan dari identitas masyarakat Mentawai,” katanya.

Rinto menjelaskan, untuk menjadi seorang Sikerei seseorang harus melewati berbagai tahapan adat dan menjalani sejumlah pantangan. Salah satunya adalah memanjangkan rambut serta tidak diperbolehkan mengonsumsi sayur pakis selama proses adat berlangsung.

Selain budaya, Pemerintah Kabupaten Mentawai juga terus mendorong pengembangan wisata surfing yang selama ini telah dikenal dunia internasional. Mentawai disebut memiliki sekitar 78 titik ombak yang tersebar di berbagai wilayah dan menjadi daya tarik utama bagi wisatawan mancanegara.

“Kita ingin menjadikan Mentawai dengan 78 spot ombak sebagai ibu kota surfing dunia,” ujarnya.

Ia mengatakan, ombak Mentawai selama ini telah dikenal luas oleh para peselancar dunia karena kualitasnya yang dinilai setara dengan destinasi surfing internasional lainnya.

“Belum diakui menjadi surfer mendunia kalau belum menjajal surfing Mentawai,” kata Rinto.

Meski demikian, pemerintah daerah mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diselesaikan, terutama terkait infrastruktur penunjang pariwisata seperti pelabuhan, bandara, hingga akomodasi wisata.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Mentawai mengajak seluruh pihak, termasuk pemerintah pusat dan investor, untuk bersama-sama mendukung pembangunan sektor pariwisata di daerah tersebut.

“Kita tidak bisa bekerja sendiri, karena itu kami mengajak semua pihak datang dan bersama-sama membangun pariwisata Mentawai,” ucapnya. (bm)


Share